Membaca Agenda Tersembunyi di Balik Tax Amnesty

Sebagaimana tulisan terdahulu {silahkan baca: (1) Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya; (2) Membaca Isu Rokok Mahal dan Tax Amnesty dari Perspektif Perang Asimetris; dan (3) Isu Rokok Dan Tax Amnesty: Tarian Gendang Yang Ditabuh Oleh Asing, M Arief Pranoto, di Web theglobal-review, Global Future Institute/GFI, Jakarta}, bahwa bentuk serangan asimetris asing (asymmetric warfare) yang sukar dikenali dan sulit dibaca oleh pubik manakala ia telah melalui “Kebijakan Negara dan/atau Pemerintah.” Kenapa? Selain kata “kebijakan” itu sendiri bersumber dari logika dan rasa —dalam arti logika yang benar dan (rasa) yang adil— dimana ujung kebijakan adalah ketentraman dan kenyamanan warga, juga — mana mungkin sebuah kebijakan negara/pemerintah kok malah menjerumuskan warga negaranya? Namun inilah yang terjadi. Ketika sebuah kebijakan justru menimbulkan keresahan di kalangan warga, maka mutlak harus dicermati bersama, karena niscaya ada sesuatu yang keliru atas proses maupun tujuan kebijakan tersebut. Baca lebih lanjut

Meramal Nasib Negeri

Tag

Ujungnya kelak, Tax Amnesty dianggap gagal tak sesuai target. Entah ditunda pelaksanaan, atau direvisi, atau terus berjalan tanpa gegap gempita, dan seterusnya. Sedang untuk membiayai proyek Tol Laut dan infrastruktur (24 pelabuhan laut, 14 bandara dan 8000 km rel kereta, dll), lagi-lagi pemerintah berutang ke China. Selanjutnya, entah skema utang nantinya adalah Public Private Partnership (PPP) —ini utang masa depan— atau Turnkey Project Management (TPM), tergantung situasi. Maka dapat diduga, China akan memilih TPM. Kenapa? Karena melalui skema TPM ini, Xi Jinping bakal terus memasukkan “tentara merah”-nya dengan kedok kuli/pekerja kasar. Inilah skenario lanjutan usai Tax Amnesty ditangguhkan atau gagal. Demikian kira-kira “dendang”-mu, Xi? Baca lebih lanjut

Ada “Brexit” di dalam Brexit

Tag

, , ,

Keluarnya Britania Raya atau Inggris dari Uni Eropa (UE) —British Exit (Brexit)— sebenarnya sudah bisa ditebak sebelumnya. Kenapa? Ada beberapa indikasi. Pertama, selama tergabung dalam UE, Inggris tidak meninggalkan Poundsterling —tidak menggunakan Uero— sebagai mata uangnya; kedua, UE ternyata bukanlah regionalisme berbasis kerjasama (gotong royong) antarnegara Eropa, akan tetapi justru terlihat sebagai wadah (kawasan) liberalisasi perdagangan atau perdagangan bebas yang kerangka bangunnya ialah persaingan. Sudah barang tentu, ketika bicara Era Kompetitif, liberalisasi perdagangan (free trade) contohnya, maka yang berlaku (hukum tak tertulis) bahwa antara satu (negara) dengan lainnya boleh saling memangsa. Baca lebih lanjut

Isu Rokok dan Tax Amnesty: Tarian Gendang yang Ditabuh oleh Asing

Tag

, ,

Melanjutkan catatan terdahulu yang bertajuk: “Membaca Isu Rokok Mahal dan Tax Amnesty dari Perspektif Perang Asimetris,” diakhir tulisan sengaja digantung (retorika) guna memantik daya intiutif dan imajinatif pembaca tentang apa agenda dan skema lanjutan pasca isu ditebar pada ruang publik. Ini memang tahapan pola dalam konsepsi asymmetric warfare atau peperangan nirmiliter yang selama ini berlangsung di berbagai belahan dunia. Ketika tak ada feed back (umpan balik) signifikan, entah malu, atau ragu-ragu, takut salah, dll maka hal ini justru mendorong penulis ingin melanjutkan apa prakiraan tahapan berikutnya, yaitu tahap “tema/agenda” dan tahap “skema (kolonialisme)” terkait isu rokok mahal serta tax amnesty (pengampunan pajak). Baca lebih lanjut

Membaca Isu Rokok Mahal dan Tax Amnesty dari Perspektif Perang Asimetris

Tag

, , , ,

Tulisan ini dilatar belakangi oleh dua hipotesa:

Pertama, bahwa kegaduhan pada ranah sosial politik akibat isu rokok mahal dan tax amnesty (pengampunan pajak) masih terus berlangsung di Republik tercinta ini. Hal ini menarik untuk dicermati bersama, mengingat ada asumsi di dunia (geo) politik, “Konflik lokal merupakan bagian dari konflik global.” Apakah kedua isu di atas merupakan “permainan” asing di negeri ini? Baca lebih lanjut

Realitas Kembar dan Jalur Konflik

Tag

Dalam ranah (geo) politik, muncul istilah “Realitas Kembar” yakni geopolitik dan geoekonomi. Singkat kata, bicara geopolitik ujungnya geoekonomi, demikian pula membahas geoekonomi mutlak harus bermula dari geopolitik. Sekali lagi, itulah maksud terminologi realitas kembar dalam dunia politik global, meski antara keduanya ada (geo) strategi sebagai “jembatan”-nya. Baca lebih lanjut

Tuan Tanah yang Tidak Berpijak Pada Tanahnya Sendiri

Tag

,

Agaknya segelintir elit di negeri ini abai terhadap pesan leluhur, lalu “membajak” kedaulatan negeri ini. Diawali oleh UU No 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) diteken di era orde baru, para elit seperti membuka kotak pandora bangsa ini. Terlebih lagi pada era reformasi, pondasi negeri (UUD 1945) diamandemen 4 X sehingga melahirkan 100-an UU pro asing (+ acong) serta anasionalis. Inilah Absentee of Lord. “Tuan tanah yang tidak berpijak pada tanahnya sendiri.” Baca lebih lanjut