Bedanya Hoax dengan Edit dan Counter Berita

Tag

, ,

Dekade lalu, belum dikenal atau belum viral diksi tentang hoax seperti sekarang ini, tetapi yang populer saat itu istilahnya “edit dan counter berita”. Secara substansi, keduanya sebenarnya tak jauh beda. Entah bermaksud untuk pengelabuhan, entah demi sebuah deception, pengalihan isu dan seterusnya tetapi dengan pola berbeda. Jika hoax benar-benar berita bohong tanpa rujukan (fiktif), sedang edit dan counter berita itu memiliki fakta dan data di lapangan, hanya modusnya pengurangan atau penambahan fakta guna menguntungkan pihak tertentu.

Contoh hoax hari ini cukup banyak. Berita sampah yang diproduksi setiap hari oleh para pihak kepentingan. Hari ini, hoax sudah semacam industri. Sementara contoh dari edit dan counter berita, hari ini agak sulit ditemui. Kenapa? Karena pasar (publik) telah biasa menerima hoax sebagai komoditas yang layak dikonsumsi. Baca lebih lanjut

Iklan

Jangan Berdendang Dulu

Tag

,

Beberapa hari ini, banyak kapal perang asing bahkan pesawat-pesawat tempur beberapa negara “mampir” di Indonesia. Tentu, selain kehadirannya berbasis informasi intelijen mereka sendiri, juga sudah tentu —yang utama— ialah mengamankan kepentingan nasionalnya masing-masing di Indonesia. Entah apa yang bakal terjadi sehingga mereka seperti berbondong-bondong merapat.

Ibu Pertiwi ini terlalu sexy di mata global untuk “dibiarkan” duduk sendirian. Bukan cuma pasar nan potensial karena faktor demografi, atau sumber raw material bagi negara industri, atau tempat putar ulang kapital, dan lain-lain bahwa geoposisi silang Indonesia di antara dua samudera dua benua dan lintasan Sealane of Communication (SLOC), pelayaran internasional tidak kunjung sepi. Barangkali negeri ini adalah epicentrum Asia Pasifik bahkan dunia? Dan sudah barang tentu, intervensi asing pada setiap pemilihan presiden adalah keniscayaan. Baca lebih lanjut

Antara Neokomunis dan Neoliberalis

Renungan Pak nDul Sebelum Imsak

Dari perspektif geopolitik global, usai cold war (perang dingin) berakhir yang ditandai pecahnya Uni Soviet (1991), bahwa tema/atau agenda benturan ideologi sudah selesai. Ia telah dianggap masa lalu, meski di beberapa negara, Indonesia misalnya, bahaya laten komunis sebagai residu benturan ideologi di masa lalu tetap dan tetap diwaspadai. Tidak tanggung-tanggung, hingga kini payung kewaspadaan ialah Tap MPRS No XXV/1966, bukan cuma sekedar undang-undang (UU).

Mari flashback sebentar, ketika Orde Lama (Orla) menempatkan musuh bersama (common enemy) –neoimperialisme– pada posisi di luar pagar NKRI, tetapi komunis malah menikam dua kali (1948 dan 1965) dari sisi dalam. Kita lengah di internal? Baca lebih lanjut

Antara Rencana, Harapan dan Angan-Angan

Tag

Pak nDul Mengkaji Setan

Ada yang bilang, bahwa ekspektasi yang melampaui rasionalitas itu identik dengan mimpi. Ekspektasi genit. Selain sukar diukur apalagi diujudkan, juga hukumnya: “Segera tinggalkan!” karena sia-sia saja. Hiduplah di alam nyata, kata si rasio sembari klepas-klepus. Ngrokok.

Akan tetapi, bagi filsafat, mimpi itu syah-syah saja. Setinggi apapun. Kenapa? Karena fiksi, cita-cita, atau mimpi dan lain-lain justru menimbulkan eter untuk dorongan masa depan. Energi esok hari. Ia mampu menguatkan motivasi sekaligus menimbulkan gelora tidak bertepi menggapai cita-cita. Baca lebih lanjut

Memotret Pak Ndul Nglindur Lagi, Core of the Core

Jika batas kesabaran (pakar) politikus tatkala kepentingannya terganggu, sedangkan batas kesabaran negarawan adalah keselamatan negara terusik. Ini intro nglindurnya Pak nDul. Semacam prolog.

Dalam geopolitik, keselamatan negara adalah hukum tertinggi —secara tersirat— meskipun tersuratnya ialah Tap MPR. Mimpi Pak nDul yang baru lalu berhenti ketika adzan subuh berkumandang, bahkan ia tak sempat merokok lagi.

Cerita mimpi kemarin, bahwa kerusakan dari Sistem KENARA (Kepentingan Negara Asing) telah sampai di level mesin, sehingga hal ini mengakibatkan “hancur”-nya pada level money. Mungkin ambruk, lambat, letoy dan sejenisnya. Entah berujud larinya investor, misalnya, atau melemahnya rupiah, ataupun mungkin jebolnya neraca dagang, dan seterusnya. Mbuh, kata Pak nDul, si ahlinya ahli. Baca lebih lanjut

Antara Pemimpin dan Kasih Sayang

Tag

Apakah kasih sayang itu? Jawabannya, banyak arti beragam makna. Tetapi singkatnya dalam ulasan kecil ini, apabila kita merujuk tafsir (terjemahan) dan maksud, maka silahkan ambil permisalan seperti adanya siang dan malam, contohnya, atau laki-laki/perempuan, bumi – langit dan lain-lain. Dan tentunya juga ada pencipta dan yang dicipta. Itulah pokok-pokok bahasan di bawah ini.

Jika mencermati keterangan di atas, kita bisa simpulkan bahwa ada 2 (dua) area atau kawasan. Pertama, adalah area atau kawasan Tuhan. Kedua, ialah kawasan manusia. Area Tuhan ialah kawasan yang yang tidak bisa dijamah oleh manusia, sedang kawasan kedua —area manusia— dapat dirambah manusia.

Hal di atas merupakan bukti kebesaran Tuhan. Dan semua itu, untuk membedakan antara pemimpin dengan yang dipimpin, sesuai kemampuan masing-masing. Sekali lagi, “Sesuai kemampuan masing-masing”. Baca lebih lanjut

Mimpi Pak Ndul tentang People Power

Pola asymmetric warfare (peperangan nirmiliter) mengisyaratkan, bahwa terminologi people power (disingkat: “Pepo”) kendati sudah berhembus kencang dan menjadi atensi publik baik lokal/nasional, regional maupun global, tetapi tatarannya baru sebatas tema atau agenda. Geliat Pepo belum masuk ke ranah skema atau tujuan. Atau, apabila dikaji dari perspektif geopolitik, ia hanya geostrategi belum merambah apa yang disebut geoekonomi. Dan sudah barang tentu, ia —agenda— akan melaju ke (skema) geoekonomi. Itu keniscayaan perilaku dalam praktik geopolitik.

Lantas, apa yang sesungguhnya terjadi di Bumi Pertiwi? Di sini, saya coba mencermati dan nanti sifatnya hanya menerangkan hasil cermatan belaka. Tak lebih. Penilaian lanjut diserahkan kepada anda sekalian.

Dalam konteks Pepo, ada dua sudut pandang yang berhadapan. Pertama, Kepentingan Nasional RI (KENARI); dan kedua, sudut sebaliknya yaitu Kepentingan Negara Asing (KENARA). Ya, intinya KENARI versus KENARA. Baca lebih lanjut

Zombie, Sejarah yang Terlupakan

Dunia Barat melahirkan istilah “zombie” untuk menggambarkan mayat hidup yang tidak memiliki pikiran dan bernafsu memangsa manusia normal.

Melalui serangkaian cara mulai dari novel, film hingga game, zombie digambarkan sebagai makhluk jahat yang harus dilawan.
Ia mayat hidup yang tidak memiliki kebaikan sama sekali.

Namun, benarkah Zombie dalam dunia nyata seperti itu? Sejarah mencatat, Ternyata Zombie adalah nama salah seorang pahlawan Islam di Brazil. Baca lebih lanjut

Mimpi Buruk Pak Ndul

Alkisah. Usai person di tataran metode lebur jadi abu. Man power —level di atasnya— pun ditolak publik. Hal ini membuat person di tataran mesin pun ragu untuk turun. Ambigu. Kedua pihak saling klaim.

Tahap pamungkas digelar (“chaos”) sehingga terbit darurat sipil dan/atau dekrit presiden, dst. Kepemimpinan berlanjut tetapi ternyata tidak menyelesaikan masalah. Chaos berlanjut. Ini di luar dugaan. Skenario lepas kendali. Out of control. Intervensi PBB tak bisa dicegah. Kendali diambil-alih. Peace keeper turun untuk melaksanakan pemilu ulang atau ada hidden agenda lain para pemilik hak veto? Itu keniscayaan. No free lunc, Sir. Pemerintah demisioner. Yang dikhawatirkan ada kavling-kavling NKRI oleh para adidaya bila solusi adalah referendum. Entah bagaimana kelak tata kelola selama pemerintahan demisioner terutama pungutan pajak, PNBP, hibah, harga-harga sembako, proyek-proyek, dan seterusnya. mBuh wis. Baca lebih lanjut

Potret Jadul

Ketika para mentor, dalang, dan lain-lain yang lazimnya cuma meremot dinamika di belakang layar, kini metungul satu persatu bahkan turun gunung. Artinya apa, selain skenarionya lepas kendali (out of control), sepertinya juga pening tujuh keliling. Ternyata bergulir skenario di atas skenario.

Persoalannya, mereka hanya berpikir tetapi tidak berakal. Dan terkadang menggunakan akal namun tidak berdzikir. Retorikanya ialah, “Bagaimana tindakanmu dianggap benar, sedang langkahmu tidak sesuai petunjuk?” Baca lebih lanjut