Musuh Imajiner itu Geostrategi

Tag

Kenapa mereka suka menciptakan musuh-musuh imajiner bagi ‘perjuangan’-nya? Jawabannya: “Itulah geostrategi” mereka, upaya guna meraih (geo) ekonomi. Mengapa? Sederhana, karena siapapun musuh ciptaan niscaya akan tunduk pada alur skenario yang telah dibuat. Ketika suatu saat terdapat peristiwa di luar skenario/lepas kendali (out of control), maka selain kepanikan, biasanya langkah-langkah selanjutnya cenderung kontra produktif, blunder, dan lain-lain. Baca lebih lanjut

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

Tag

Tatkala teriakan dan/atau gugatan penghilangan pasal 156a KUHP justru berasal dari external, maka sesungguhnya fase balkanisasi nusantara bukannya baru dimulai, akan tetapi ia telah menginjak pada fase pematangan. Ya, jika pasal penistaan dihapus, bakal timbul konflik (horizontal) tak bertepi di Bumi Pertiwi. Ini yang diinginkan oleh kaum penjajah. Indonesia dipecah-pecah menjadi beberapa negara kecil berbasis agama dan/atau etnis. Nation state bubar, diganti ethnic state, religion state, corporate state, dan sebagainya. Inilah skema besarnya. Baca lebih lanjut

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Tag

Tak boleh dipungkiri, teori-teori geopolitik itu erat kaitannya dengan angan-angan (desire) perumusnya. Kenapa? Tidak ada suatu teori geopolitik pun yang bisa diterima oleh semua bangsa dan/atau negara. Bahkan ada pendapat, bahwa geopolitik sebagai pandangan politik, hanya dijadikan alat justifikasi ekspansi bagi negara perumus atau penyusunnya. Maka usai Perang Dunia II tempo doeloe, geopolitik sebagai ilmu dan doktrin sempat ‘dikucilkan’ oleh kaum akademisi akibat kiprah “fasisme”-nya Adolf Hitler. Baca lebih lanjut

Konflik yang Diciptakan oleh Sistem

Tampaknya, strategi devide et impera kaum kolonial di Indonesia semakin lama kian kuat tertancap. Bahkan ada anekdot berkembang: “Tidak ada yang abadi di Bumi Pertiwi melainkan devide et impera“. Dalam praktik, ia beroperasi secara senyap dan uniknya, sebagian besar rakyat justru tak menyadari bahkan cenderung larut pada skema adu domba dimaksud. Buktinya? Setiap kali ada hajatan demokrasi ala Barat (one man one vote), entah pilkades, pilkada maupun pilpres maka niscaya masyarakat pun terbelah, gaduh, gontok-gontokan, dsb. Artinya apa, bahwa sesungguhnya konflik horizontal di tataran hilir diciptakan oleh sistem itu sendiri. Baca lebih lanjut

Membaca “Tudingan Curang”-nya Trump terhadap Indonesia

Tag

Dari perspektif asymmetric warfare atau peperangan nirmiliter, tudingan Trump ini istilahnya ‘isu’. Trump lagi menabur isu. Kenapa? Karena usai isu ditabur, niscaya akan ada langkah terkait ‘tema dan/atau agenda’ serta ‘skema’ yang hendak didorong kemudian. Begitu urutannya: Isu – Tema – Skema. Pertanyaannya, “Apa tema berikutnya?” Ini yang mutlak didefinisikan, dianatomi, di-breakdown, dan lain-lain. Baca lebih lanjut

Ulasan Singkat Plutokrasi: “Tirani akan Menimbulkan Perlawanan”

Membandingkan warna dan kiprah rezim selama Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945, cermatan sekilas penulis baik pada forum akademis, melalui media baik mainstream maupun nonmainstream, media sosial, ataupun di forum informal seperti cangkruk’an di warung kopi, dan sebagainya ada kecenderungan opini bahwa Orde Baru dianggap rezim paling tirani, brutal lagi otoriter dibanding dengan rezim-rezim lain. Betapa tidak, selama 30-an tahun berkuasa, ia memberangus kebebasan, menyeragamkan pemikiran, penembakan-penembakan misterius, ataupun mampu memenjarakan orang tanpa proses peradilan, dan lain-lain. Inilah stigma buruk atas kiprah Orde Baru tempo doeloe. Pun sejatinya tak semuanya buruk, cuma sebagian masyarakat lupa, justru pada zaman Orde Baru kestabilan politik dan keamanan sangat terkendali, harga-harga terjangkau, swasembada pangan, pernah menjadi net oil exporter, bahkan nilai tukar dolar Amerika berkisar dua ribuan rupiah, dan lain-lain. Baca lebih lanjut

Mengapa China Bersemangat Membangun Infrastruktur di Indonesia?

Tag

Sebelum kebijakan One Belt One Road (OBOR)-nya XI Jinping terbit, tak boleh dielak, embrionya adalah String of Pearls, yaitu strategi China guna mengamankan jalur ekspor-impornya terutama suplai energi (energy security) dari negara dan/atau kawasan asal hingga ke kawasan tujuan. Target jalur yang diincar ialah bentangan perairan dari pesisir Laut Cina Selatan, Selat Malaka, melintas Samudera Hindia, Laut Arab, Teluk Persia, dan lainnya sehingga bila dibaca dalam peta, terlihat seperti untaian mutiara atau gambar kalung (Pearls). Baca lebih lanjut

Ikannya Melompat-Lompat

Tag

Persoalan utama bangsa adalah tergadainya kedaulatan pangan dan energi (food and energy security). Itulah masalah hulu bangsa ini. Lha, kok tiba-tiba ada pejabat yang tergolong “baik” lagi cerdas justru menganjurkan kita meninggalkan SDA? Sungguh ironi. Yakin dech, yang berbicara itu pasti bukan logikanya, bukan kecerdasannya, akan tetapi ideologi yang dianut wong iku selama ini. Baca lebih lanjut