Obor dan Chungkuok Tiangshi, Ruh Kolonisasi Cina

Tag

,

Hari ini, bahkan di tahun politik, republik tercinta masih gaduh masalah isu-isu hilir seperti sentimen anti-Cina misalnya, atau konflik antarmazhab dalam agama, benturan antar-ormas, sentimen agama dan lain-lain. Geopolitik membaca, penggaduhan publik melalui hilirisasi isu ini tak lepas dari bagian serta upaya-upaya invesible hands melakukan deception alias penyesatan melalui devide et impera agar segenap anak bangsa abai atas silent invasion (invasi senyap) yang tengah dilakukan oleh kepentingan asing di negeri ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Membaca Jaringan Cina di Bali dari Perspektif Geopolitik

Tag

Kajian (ilmu) geopolitik senantiasa melihat persoalan negara dari 4 (empat) dimensi yang meliputi teori ruang (living space) atau lebensraum, dimensi frontier, dimensi keamanan negara dan bangsa, serta dimensi politik kekuatan atau sering disebut power concept. Secara singkat dan sederhananya dalam praktik (geo) politik, empat dimensi di atas artinya “pintu masuk.” Pintu masuk untuk kemana? Kolonialisme! Ini memang sisi lain dari sebuah geostrategi. Pertanyaan kenapa geostrategi terkait dengan dimensi —pintu masuk— dalam pergeopolitikan, nah poin ini nanti kita ulas di lain topik. Baca lebih lanjut

Bulan ini, Ujian Tuhan Kepada Manusia baru Sebatas Bahwa DIA itu Ada

Bulan ini –Maulud– akan ada peristiwa. Entah satu kejadian atau beberapa kejadian, tetapi yang pasti, peristiwa itu nantinya berupa “penyakit” dalam arti luas. Dan hal itu merupakan tanda murkanya Tuhan kepada manusia. Akan tetapi, hakiki peristiwa dimaksud tujuannya semata-mata untuk menguji manusia: “Bahwa Tuhan itu ada.” Baca lebih lanjut

Antara Perjanjian Giyanti dan One Man One Vote, Satu Tarikan Nafas

Tag

Apabila kita menengok sejarah terbelahnya Mataram menjadi dua kerajaan —Solo dan Jogja— karena Perjanjian Giyanti (1755), mungkin, itulah sejarah terpecahnya Nusantara kali pertama akibat mainan (devide et impera) oleh asing/kaum kolonialis. Kontemplasi pun muncul, “Bukankah sejarah niscaya berulang?” Ya, history repeat itself dengan pola yang sama hanya aktor, waktu, dan kemasan berbeda. Jadi, apa bentuk perulangan keterpecahan bangsa di era kini? Baca lebih lanjut

Membaca Geopolitik 2019 dari Perspektif Spritual

Tag

,

Jika tahun 2019 dilihat dari hijriyah, hurufnya adalah ba’ dan itu “tahun air.” Namun secara masehi, hurufnya duduk di jim (jumadil) akhir, disebut “tahun mati,” atau kumpul/untuk bermusyawarah, dan lain-lain. Maknanya, bahwa pada 2019 nanti dinamika politik cenderung kearah “kumpul-kumpul” bila dilihat secara masehi, tetapi berkumpul bukan cuma berkerumun, atau sekedar ngrumpi. Ya ada musyawarah untuk merajut mufakat, atau merumuskan suatu kebijakan, ataupun membuat aturan baru, merangkai aliansi, membuat pakta-pakta dst. Inilah garis besar ketetapan alam (dari Tuhannya) untuk manusia pada 2019 (tahun mati/kumpul) baik di tingkat global, regional maupun lokal/nasional. Baca lebih lanjut

Membuat Luka Baru di atas Luka Lama

Tag

,

Hiruk-pikuk dan gempita sosial politik di negeri ini memang terlihat glamour lagi mewah, namun kalau ditelusuri — bahwa kegaduhan tersebut hampir tidak bermakna apa-apa, terutama bila dikaitkan dengan Kepentingan Nasional RI. Bahkan kalau dicermati secara jeli bahwa kegaduhan tersebut tidak menyentuh sama sekali ke (solusi) permasalahan bangsa. Contohnya, ketika persoalannya adalah rupiah anjlok di mata US Dollar dan berdampak langsung meningkatnya jumlah utang, tetapi topik yang diviralkan justru tentang Banser; atau Indonesia kini dirundung soal impor berlimpah sehingga menggerus devisa dan merugikan petani, namun yang digebyarkan malah isu politik identitas; ketika kita tengah menghadapi lapangan kerja sempit di satu sisi, sementara TKA membanjir di sisi lain, tetapi publik dihebohkan soal isu korupsi, anti-ini, anti-itu dan lain-lain. Inilah demonologi politik yang kurang nyambung. Pertanyaan selidik pun muncul, “Apa yang sesungguhnya terjadi dan siapa diuntungkan dengan ketidaksambungan dan keterbelahan sosial seperti ini?” Juga, hal-hal di atas termasuk isu sentimen di Garut yang tengah viral. Baca lebih lanjut

Zombie di Sistem

Tag

Dari perspektif sistem, ketika kegoncangan (sistem) bentuk apapun sudah sampai di level money (keuangan) —Misalnya Podomoro, Lion, Lippo, Sinar Mas dan lain-lainnya— maka dari kondisi tersebut dapat diraba, bahwa tahapan serta mekanisme sistem dimaksud terutama level mesin, man power, dan metode, sudah kurang berfungsi seperti biasanya, tak berjalan sebagaimana mestinya. Istilahnya tidak efektif lagi tak efisien. Dalam sistem dimaksud, mungkin yang tersisa (level) “materiil” yang masih tertinggal. Entah bagaimana kelak materiil diberdayakan. Baca lebih lanjut