Narasi Pengkhianat

Dalam sejarah manusia, pengkhianat itu tak punya tempat, baik di sisi musuh maupun di internal (bangsa)-nya sendiri. Kalaupun sekarang ini mereka memiliki tempat, tak lain karena perjuangan si musuh masih berproses. Belum maksimal. Si pengkhianat dianggap masih berperan di mata musuh. Tapi jika kelak tujuan sang musuh sudah tercapai, ia —pengkhianat— bakal disembelih! Baca lebih lanjut

Energi Demokrasi ala Barat

Kita saksikan bersama, bahwa harga sebuah demokrasi ala Barat yang kini diterapkan di Indonesia selain menghabiskan energi bangsa, juga berongkos sangat mahal, baik mahal pada budget, tingginya resiko sosial, melonggarnya iklim kebhinnekaan, dan lain-lainnya, terutama sekali ialah dampak negatif atas keretakan rasa persatuan dan kesatuan bangsa ini. Lalu, tidakkah para perumus dan pengambil keputusan di republik ini mulai berpikir untuk kembali ke demokrasi yang berbasis local wisdom leluhur yakni demokrasi musyawarah mufakat? Baca lebih lanjut

Industri Hoax

Tag

Hoax kini telah menjadi industri di republik ini. Adapun pabrikasi atas industri tersebut cukup banyak variannya. Seperti playing victim contohnya, atau false flag issue, deception, dll yang inti “ruh”-nya adalah devide et impera. Hoax diproduksi guna mengadu-domba sesama anak bangsa pada persoalan-persoalan residual alias “ecek-ecek” di atas permukaan. Inilah yang kini berlangsung secara massif lagi sistematis. Tujuannya agar segenap anak bangsa gaduh sendiri di tataran hilir, sedang permasalahan hulu bangsa —di bawah permukaan— yaitu penguasaan ekonomi dan pencaplokan sumber daya (alam) oleh asing terus berjalan secara senyap, justru tanpa kegaduhan sama sekali. Asyik ‘kan? Baca lebih lanjut

Geoposisi Silang dan fee pada Choke Point

Tag

Bahwa pengapalan sapi dari Australia ke Cina selalu melintasi Selat Lombok, dan selainnya, masih banyak produk-produk lain dari Australia melewati perairan Indonesia menuju berbagai negara. Secara geopolitik, bila selat tersebut ditutup untuk sementara waktu —entah dalam rangka latihan TNI-Polri guna menghadapi teroris misalnya, atau karena kepentingan nasional RI terancam, atau alasan lain, dsb. Implikasinya, “Apa Australia tidak menjerit?” Dia bisa muter melalui Papua Newguine/PNG. High cost, produknya akan sulit bersaing. Baca lebih lanjut

Gagap Sejarah

Tag

Jika sepakat demokrasi sebagai sistem politik guna mengelola negeri ini, kita mutlak harus mencermati sejarah, baik sejarah bangsa sendiri maupun potret serta lintasan model demokrasi di negara lain. Kenapa? Betapa sejarah kejayaan Sriwijaya (Nusantara l) dan Majapahit (Nusantara ll) adalah sistem kerajaan, bukannya sistem multipartai, one man one vote, atau demokrasi seperti sekarang ini. Pertanyaannya, “Bagaimana meniru kejayaan masa lalu bila sistem politik kekuasaannya tak sama/berbeda?” Baca lebih lanjut

Privatisasi Tanah Air

Tag

Penawaran pelabuhan-pelabuhan strategis di negeri ini —Morotai, Sabang, Riau, dll— kepada asing dalam skema kerja sama ekonomi dan/atau pariwisata, secara geopolitik merupakan ujud “privatisasi tanah air” melalui penyerahan elemen-elemen vital geopolitik dengan (kedok) mengatasnamakan investasi asing. Lho, rumah serta pekarangan kita yang harus dipertahankan kok malah dilepas? Padahal founding fathers dulu berpesan, “Pertahanan nasional dapat berhasil maksimal jika berdasarkan geopolitik” (Bung Karno, 1959).

jenderal-sudirman

Konflik adalah Implementasi Geostrategi Asing di Indonesia

Tag

Inti beberapa pakem dan/atau teori tentang integrasi menyebut, bahwa semakin homogen masyarakat maka kian kuat pengaruh untuk terjadi integrasi. Di Indonesia contohnya, secara etnik, homogenitas terlihat rendah/rapuh karena faktor kebhinekaan yang relatif lestari, namun secara religi (khususnya Islam), homogenitas sangat tinggi. Namun kedua faktor di atas, justru kini diobrak-abrik oleh invisible hands (tangan-tangan tersembunyi) melalui beberapa skenario konflik. Baca lebih lanjut