Sepintas Perbedaan Geopolitik Barat dan Timur

Perbedaan pokok baik teori maupun implementasi antara Geopolitik Barat (GB) dengan Geopolitik Timur (GT) ada pada “ruh manuver”-nya. Jika GB cenderung ekspansionisme, sedang GT condong ke defensif aktif. Bila perilaku GB memiliki kecenderungan mencari, meluaskan, mengurai dan “mencaplok” geoekonomi negara lain, maka perilaku GT terutama “ruh manuver” geopolitik Indonesia justru mempertahankan dan/atau memberdayakan geoekonomi (dan geostrategi) agar memiliki nilai kemanfaatan yang terus meningkat bagi (kejayaan) bangsa, negara dan rakyat. Jadi intinya, jika teori dan praktik GB berfokus keluar guna meraih dan merebut geoekonomi negara lain, sedang GT lebih bersifat kedalam dimana sasarannya adalah demi keselamatan geoekonomi internal dari “jarahan” asing serta dalam rangka meraih kejayaan bangsa dan negara. Baca lebih lanjut

Iklan

Antara Etika dan Kebenaran dalam Negara

Sebuah Kontemplasi

Ketika jargon “NKRI Harga Mati” digebyarkan secara gegap gempita, tetapi sistem (pengelolaan) konstitusi malah menggiring kekayaan bangsa dan negara lari keluar, maka hakiki NKRI hanyalah medan tempur (proxy war) bagi para aktor, baik aktor negara asing maupun aktor non-negara/korporasi dalam rangka mengeruk kekayaan NKRI justru melalui sistem itu sendiri. Apa tidak sebaiknya, bila Tujuan Negara pada pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan sebagai “Harga Mati”? Baca lebih lanjut

Sumber-Sumber Ilmu Pengetahuan

Sebuah ilmu (pengetahuan dan teknologi), selain ada yang bersifat laduni, langsung dari Tuhannya, dapat pula diperoleh melalui riset/penelitian, dan/atau melalui analogi atas sebuah peristiwa dalam kehidupan. Sedang versi Ir. Ganjar Kartasasmita, ia bisa diperoleh lewat siklus tertentu. Misalnya, berawal dari alam manusia mendapat banyak pengalaman (experience). Pengalaman demi pengalaman menjadikan manusia tahu akan sesuatu dan muncullah pengetahuan (knowledge). Pengetahuan ditularkan, disampaikan dan diajarkan kepada orang lain sehingga melahirkan ilmu (science) yang terus berkembang, baik dalam ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial atau ilmu geografi. Ilmu geografi diterapkan lagi ke alam/geografi menjadi teknologi dan teknologi memunculkan pengalaman baru, pengetahuan baru, ilmu baru, dan seterusnya. Baca lebih lanjut

Siapa Dalang-Dalang Perang Dunia?

Pola lokal di nusantara yang kini (diadopsi) menjadi pakem global adalah pagelaran wayang. Bahwa di setiap pagelaran —wayang, contohnya— niscaya ada penontonnya, ada wayang itu sendiri, ada si dalang dan ada penanggap atau sering disebut sang pemilik hajatan. Pakem yang berlaku, si wayang itu terserah dalang. Mau dimenangkan, atau dimasukkan kotak, manut saja. Terserah si dalang. Sedangkan dalang tergantung dari maunya si pemilik hajatan, sebab ia yang punya gawe (hajat). “Pak Dalang, malam ini lakonnya Semar Mesem ya, jangan Petruk Dadi Ratu. Sudah kuno itu!” Baca lebih lanjut

Kenapa ada Narasi Mistik dan Telaah Fiksi dalam Dunia (GEO) Politik?

Terkadang diperlukan fiksi untuk meramal dan/atau menggambar masa depan. Mengapa begitu? Selain semua itu, konon bermula dari mimpi, juga kerap kali, fakta, indikasi, faktor, dan lain-lain yang ditemui di lapangan tidak bisa diterima secara logika/akal sehat dan ditolak oleh mekanisme akademis serta tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa ilmiah. Santet contohnya, apakah bisa diterangkan dalam postulat akademis? Sulit. Atau, langit itu terdiri atas tujuh lapis. Apakah mampu dijelaskan secara ilmiah; berapa jarak tiap tingkatan langit; di setiap tingkatan ada apa? Dan lain-lain. Tetapi, bukankah ia (santet) itu ada, nyata dan berada di kehidupan kita; bukankah tujuh lapis langit itu diyakini hampir semua agama dan manusia? Artinya, ilmu pengetahuan yang berbasis keilmiahan tak sepenuhnya mampu menjelaskan fenomena kehidupan dimaksud. Maka dari itu, lahirlah apa yang disebut “fiksi”. Ketika praktik intelijen dan juga kekuatan pikir (analisa) menjumpai data dan fakta yang tak masuk kategori ilmiah, tetapi menjadi faktor dominan sebuah simpulan dan rekomendasi, maka istilah yang diberikan adalah sciencie-fiction (scien-fi). Baca lebih lanjut

Hubungan antara Sila I dengan Sila V

Renungan Kecil

Implementasi Sila ke-1 Pancasila dalam keseharian rakyat itu sederhana, “Bekerjalah dengan baik dan iklas sesuai profesimu, Aku yang mengatur rezeki kalian,” kata Tuhan. Mengapa? Hal ini terkait dengan Sila ke-5 yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Apa substansi Sila ke-5? Bahagia. Dan kebahagian tidak bisa diukur dengan materi. Kebahagian seorang konglomerat tatkala bisnisnya untung besar, misalnya, bisa sama dengan kebahagian tukang cukur ketika dapat bonus dari pelanggannya, dll. Jumlahnya jelas jauh berbeda, tetapi ujungnya sama: “Bahagia”. Jadi, kebahagian itu sama. Manunggal rasa hanya berbeda warna serta ujudnya tak sama. Lantas, dimana letak “keadilan” sesuai Sila ke-5? Ini mirip atau identik dengan kebahagian. Bahkan keadilan adalah sisi lain kebahagian. Artinya, ia tidak mengejar hal fisik dan/atau materi sesuai kebutuhan atau porsi. Apabila pedagang besar sehari laba 1 juta rupiah dibanding pedagang kaki lima untung 200 ribu/hari. Ini keadilan sesuai porsi. Bayangkan jika keuntungan tadi dibalik, pedagang kaki lima untung 1 juta dan pedagang besar laba cuma 200 ribu/hari? Baca lebih lanjut

2019: Akhiri Sistem Politik Balas Budi yang Menggaduhkan dan Membelah Bangsa

Telaah Singkat Geopolitik

Dari perspektif (geo) politik lokal/nasional, sistem demokrasi di era reformasi ini cenderung liberal, tidak sesuai dengan nilai dan local wisdom bangsa seperti nilai-nilai musyawarah mufakat, gotong royong, guyub, tolong menolong, dan seterusnya. Akibatnya, ia (sistem liberal tersebut) membuahkan realita politik bahwa hampir semua pimpinan di level manapun baik di desa maupun sampai ke tingkat nasional pun, masalah pokoknya adalah: “Tersandera oleh balas budi dan kepentingan pemilik modal yang mendukung rangkaian pencalonan sampai sang kandidat duduk menjadi pejabat.” Maka implikasinya, banyak para pemimpin terjebak permasalahan klasik seperti korupsi, ataupun balas budi dengan mendudukkan pejabat bukan ahlinya, atau akibat penyelewengan kebijakan publik demi melayani kepentingan si pemilik modal. Baca lebih lanjut

Sekilas Perjuangan Bangsa dan Trah Anak Kandung Revolusi

Telaah Geopolitik

Dalam sejarah perjuangan Indonesia, terdapat unsur-unsur/elemen pokok dari persatuan dan kesatuan bangsa yang dahsyat lagi sangat ditakuti oleh musuh (kaum penjajah asing). Unsur dimaksud ialah TNI, Polri (meski kala itu masih embrio), kemudian unsur ulama dan unsur pribumi/rakyat. Itulah elemen pokok perjuangan dan persatuan bangsa yang dianggap sebagai anak-anak kandung revolusi. Sekali lagi, TNI, Polri, ulama, dan rakyat (atau pribumi). Baca lebih lanjut